Peresmian SPOT Teaching Plant di INSTIPER: Tonggak Sejarah Baru Hilirisasi Sawit Nasional Menuju Era Industri Hijau

Teknologi Steamless Palm Oil Technology (SPOT) menyimpan potensi besar dalam menghasilkan minyak sawit bernutrisi sekaligus membuka peluang pemanfaatan komponen lainnya sebagai bahan bakar. Untuk merealisasikan potensi tersebut,optimalisasi teknologi dan kajian kelayakan bisnis menjadi prioritas sebelum diterapkan secara luas.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Ir. Putu Juli Ardika, MA,menyampaikan hal tersebut usai meresmikan dan mengunjungi SPOT Teaching Plant sekaligus memberikan kuliah umum di Institut Pertanian STIPER (INSTIPER) Yogyakarta, Jumat (16 Oktober 2026).

Menurut Putu Juli, teknologi SPOT perlu disempurnakan terlebih dahulu sebelum memasuki tahap pengembangan berikutnya. Pada 2027, pengembangan ditargetkan memasuki tahap pembangunan pilot plant untuk mengkaji kelayakan teknis dan bisnisnya.

“Kita harapkan pada 2027 bisa membuat pilot plant untuk melihat business plan-nya, sehingga teknologi ini dapat disosialisasikan kepada pelaku usaha, terutama koperasi atau perkumpulan petani yang bisa menjalankannya,” ujarnya.

SPOT diharapkan tidak hanya menghasilkan minyak bernutrisi, tetapi juga memungkinkan pemanfaatan komponen hasil pengolahan untuk produk lain, termasuk bahan bakar. Potensi ini perlu dikaji lebih lanjut agar setiap hasil pengolahan dapat memberikan nilai tambah.

INSTIPER Jadi Pusat Pengembangan Teknologi

Putu Juli menilai, peresmian dan keberadaan SPOT Teaching Plant di INSTIPER menjadi jembatan antara pendidikan,riset, dan kebutuhan industri. Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa, dosen, dan peneliti terlibat langsung dalam pengujian serta pengembangan teknologi.

Ia berharap INSTIPER dapat menjadi episentrum pengembangan SPOT di Indonesia sehingga teknologi tersebut semakin luas dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku industri sawit.

“Mahasiswa dan akademisi bisa melihat dan melakukan sendiri, sehingga ide-ide baru muncul dan teknologi ini dapat terus dikembangkan,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan SPOT, Kementerian Perindustrian membuka peluang fasilitasi standardisasi produk dan pembiayaan melalui program yang tersedia. Salah satunya program Industri Padat Karya, yang menurut Putu Juli memiliki skema diskon suku bunga sekitar lima persen bagi pelaku usaha yang menggunakan pembiayaan perbankan,sesuai ketentuan yang berlaku.

Peluang koordinasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) juga dapat dijajaki untuk mendukung pengembangan SPOT menjadi kegiatan industri.

Putu Juli menegaskan, dukungan tersebut diarahkan untuk membangun lighthouse atau fasilitas percontohan yang dapat menjadi model bagi pelaku usaha lain dalam mengadopsi teknologi.
“Bantuan itu bukan untuk seterusnya. Kita ingin membangun lighthouse-nya terlebih dahulu. Kalau sudah berkembang,pelaku usaha lain bisa melihat dan mempelajarinya,” jelasnya.

Tags: , ,